Kamis, 18 Juni 2009
Eksistensi Nasionalisme Di Indonesia
Dengan memudarnya nasionalisme, yang terutama disebabkan oleh begitu tingginya ketidakadilan, korupsi yang merajalela dan pelanggaran Hak Asasi Manusia(HAM) yang terbengkalai dalam hukum serta kasus lainnya. Musuh bangsa yang paling utama sekarang ini bukanlah penjajah atau sikap ekspansif atau sikap agresor negara tetangga, melainkan birokrasi bangsa ini yang korup, ketidakadilan dan ketidakmerataan ekonomi, politik, kemiskinan, kekuasaan yang sewenang-wenang dan lainnya.
Saat ini nasionalisme misalnya dengan mengadakan perlawanan fisik melawan malaysia yang mengganggu kedaulatan RI dengan merampas Pulau Ambalat, merupakan suatu perilaku atau sikap yang sangat terpuji. Namun kita tidak bisa lengah sedikitpun terhadap mentalitas kenbanyakan para birokrat yang sering korup dan penyalahgunaan kekuasaan. Karena nasionalisme bukan lagi dikaitkan dengan perjuangan melawan penjajah atau hanya apabila wilayah kedaulatan kita diganggu oleh bangsa lain. Tetapi nasionlaisme juga memperbaiki mentalitas buruk para birokrat yang sering korupsi dan penyalahgunaan wewenang, perlakuan melanggar HAM serta kasus lainnya. Dalam artian, nasionalisme saat ini merupakan usaha untuk mempertahankan eksistensi bangsa dan negara dari kehancuran akibat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Sehingga yang menjadi pahlawan pada saat ini bukan saja mereka yang berani menghadang penjajah tetapi juga mereka yang berani memberantas akorupsi dan berbagai bentuk penyelewengan kekuasaan.Pahlawan seperti itu tidak kalah mulianya dengan pahlawan yang menang dalam memperjuangkan kedaulatan RI.
Tugas bangsa Indonesia saat ini adalah bagaimana menumbuhkan semangat nasionalisme- cinta tanah air dalam diri anak-anak generasi penerus bangsa. Yaitu dengan menanamkan semangat perilaku jujur, disiplin, berani menentang ketidakadilan dan lainnya, selain semangat dan keterampilan fisik seperti militer untuk mengahdapi serangan dayang menggangu kedaulatan RI.
Karena sebuah kekuatan dan harga diri bangsa bukan terutama pada kekuatan angkatan bersenjata dengan seluruh persenjataan perang yang canggih, tetapi juga bagaimana menciptakan masyarakat bangsa yang berkualitas dan
bermartabat.
(17/06/09,SPM)
Jumat, 27 Maret 2009
Perkembangan Emosi Remaja
Target yang hendak dicapai melalui dasar-dasar pendidikan dan yang juga dirancang oleh lembaga-lembaga pendidikan adalah menyiapkan generasi yang unggul dan mampu menghadapi segala persoalan yang dihadapinya. Disamping itu, tujuan lain yang hendak kita harapkan pada generasi yang akan datang adalah generasi yang memiliki mental yang kuat dan rasa percaya diri.
Seorang remaja hendaklah kuat jasmaninya, tidak sakit-sakitan dan lemah. Sebab akal yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat, gemar berolahraga, memperhatikan kebersihan, mengikuti petunjuk-petunjuk kesehatan dengan cara menerapkannya pada diri sendiri.Jauh dari kebiasaan-kebiasaan yang membahayakan fisik maupun akal seperti narkoba dan minuman keras atau sejenisnya. Secara kejiawaan bebas dari berbagai problem kejiwaan an menikmati keharmonisan jiwa dan perasaan- perasaan positif yang lain.
Remaja berada dalam periode yang banyak mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan khususnya menyangkut dengan penyesuaian diri terhadap tuntutan lingkungan dan masyarakat serta orang dewasa. Kematangan hormon seks yang ditandai dengan datangnya menstruasi bagi remaja putri dan keluarnya mani melalui mimpi basah pada remaja putra dapat menimbulkan kebingungan dan perasaan cemas, khususnya apabila mereka belum disiapkan untuk menyikapi peristiwa tersebut secara positif. Perubahan-perubahan yang dialami tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan dan hubungan sosial remaja. Para remaja mulai tertarik kepada lawan jenis, ketertarikan ini disatu sisi dapat menimbulkan konflik dalam diri mereka karena mungkin muncul perasaan malu, kurang percaya diri dan kebingungan dalam penyesuaian diri, agar bertingkah laku seperti yang dinginkan orang dewasa.
Kecenderungan tingginya gejolek emosi remajaperlu dipahami oleh pendidik khususnya orangtua dan guru. Untuk itu perlu dihindari hal- hal yang dapat menimbulkan emosi negati seperti marah, sedih, kecewa, frustasi, cemas dan lainnya.
Banyak penelitian membuktikan bahwa salah satu penyebab remaja menjadi nakal adalah karena mengalami gangguan emosi menibulkan rasa tidak aman dan tidak puas terhadap kehidupan sehari-hari. Selanjutnya dapat timbul kebencian dan kecemburuan terhadap orang- orang yang lebih beruntung dan bahagia. Akibat dari semuanya ini sering mereka melakukan tindakan yang merusak dan menyakiti orang lain.
A.Pengertian Emosi
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah suatu keadaan kejiwaan yang mewarnai tingkah laku. Emosi dapat juga diartikan sebagai suatu reaksi psikologis yang ditampilkan dalam bentuk tingkah laku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, haru dan sejenisnya.
Biasanya emosi muncul dalam bentuk luapan perasaan, dan surut dalam waktu yang singkat. Hathersall (1985), merumuskan pengertian emosi sebagai situasi psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Emosi sering didefinisikan dalam istilah perasaan (feeling): misalnya pengalaman-pengalaman afektif, kenikmatan atau ketidaknikmatan, marah, takut, bahagia, sedih dan jijik. Emosi juga sering berhubungan dengan ekspresi tingkah laku dan respon-respon fidiologis.
B.Jenis- Jenis Emosi
Berasarkan sebab dan reaksi yang ditimbulkan, emosi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
1 Emosi yang berkaitan dengan perasaan (syaraf-syaraf jasmaniah), misalnya perasaan dingin, panas, hangat, sejuk dan sebagainya. Munculnya emosi seperti ini lebih banyak dirasakan karena faktor fisik diluar individu, misalnya cuaca, kondisi ruangan dan tempat dimana individu itu berada.
2 Emosi yang berkaitan dengan kondisi fisiologis, misalnya sakit, meriang dan sebagainya. Munculnya emosi sepertinini lebih banyak dirasakan karena faktor kesehatan.
3 Emosi yang berkaitan dengan kondisi psikologis, misalnya cinta, rindu, sayang, benci dan sejenisnya. Munculnya emosi seperti ini lebih banyak dirasakan karena faktor hubungan dengan orang lain.
C. Karakteristik Emosi pada Masa Remaja
Remaja memiliki karakteristik pemunculan emosi yang berbeda bila dibandingkan dengan masa kanak-kanak maupun dengan orang dewasa. Emosi remaja seringkali meluap-luap (tinggi) dan emosi negatif mereka lebih mudah muncul. Keadaan ini lebih banyak disebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka dan lingkungan yang menahalangi terpuaskannya kebutuhan tersebut ( Hurlock, 1980). Luella Cole (1963) mengemukakan bahwa ada 3 (tiga) jenis emosi yang menonjol pada periode remaja, yaitu :
1 Emosi marah
Emosi marah lebih mudah timbul apabila dibandingkan dengan emosi lainnya dalam kehidupan remaja. Penyebab timbulnya emosi marah pada remaja ialah apabila mereka direndahkan, dipermalukan, dihina atau dipojokkan dihadapan kawan-kawannya. Remaja yang sudah cukup matang menunjukkan rasa marahnya tidak lagi dengan berkelahi seperti pada masa kakank-kanak sebelumnya. Kadang-kadang juga remaja melakukan tindakan kekerasan dalam melampiaskan emosi marah, meskipun mereka berusaha menekan keinginan untuk bertingkah laku seperti itu. Pada dasarnya remaja cenderung mengganti emosi kekanak-kanakan mereka dengan cara yang lebih sopan.
2 Emosi Takut
Ketakutan yang dialami selama masa remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Ketakutan terhadap masalah atas siakp orang tua yang tidak adil dan cenderung menolak didalam keluarga.
b. Ketakutan terhadap masalah mendapatkan status baik dalam kelompok sebaya maupun dalam keluarga.
c. Ketakutan terhadap masalah penyesuaian pendidikan, atau pilihan pendidikan yang sesaui dengan kemampuan dan cita- cita.
d. Ketakutan terhadap masalah pilihan jabatan yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan.
e. Ketakutan terhadap masalah-masalah seks.
f. Ketakutan terhadap ancaman keberadaan diri.
Pada saat akhir masa remaja dan memasuki perkembangan dewasa awal, ketakutan atau kecemasan yang baru muncul adalah menyangkut masalah keuangan, pekerjaan, kemunduran usaha, pendirian/ pandangan politik , kepercayaan/ agama, perkawinan dan keluarga. Remaja yang sudah matang akan berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang menimbulkan rasa takutnya
3 Emosi Cinta
Emosi telah ada pada diri anak semenjak bayi dan terus berkembang hingga dewasa. Sedangkan pada masa remaja, rasa cinta diarahkan kepada lawan jenis. Pada masa bayi rasa cinta diarahkan pada orang tua terutama kepada ibu. Pada masa kanak-kanak (3-5 tahun) rasa cinta diarahkan pada orang tua yang berbeda jenis kelamin, misalnya anak laki-laki akan jatuh cinta pada ibu dan anak perempuan pada ayah. Pada masa remaja arah dan objek cinta itu berubah terhadap teman sebaya yang berlawanan jenis.
Beberapa situasi yang mendorong remaja putri untuk menyayangi wanita secara berlebihan, yaitu :
1 Wanita tersebut dirasakan dapat membantu ,engatasi kesulitan yang dihadapinya.
2 Wanita itu dapat dijadikan sebagai pengganti ibunya, apabila jauh dari ibunya yang dijadikan figur atau kehilangan kasih sayang ari ibunya karena perceraian atau meninggal dunia.
3 Wanita tersebut dirasakan sangat menyayanginya dan ia berasal dari keluarga yang menolak dirinya
4 Karena tidak populer diantara teman pria, merasa sangat malu dan takut kepada teman pria, atau mempunyai pengalaman yang menyakitkan dengan pria.
Remaja wanita yang mengalami perkembangan perasaan cinta yang normal adalah jika remaja mengarahkan rasa cintanya kepada pemuda sesama remaja. Demikian juga dengan remaja pria yang mempunyai cinta yang normal mengarahkan cintanya pada seorang gadis.
Pada akhir masa remaja,mereka memilih satu lawan jenis yang paling disayangi. Perkembangan yang normal mengenai emosi cinta dapat disimpulkan sebagai berikut:
a) Objek cinta mula-mula adalah orang dewasa yang sejenis atau berbeda jenis.
b) Kemudian ojek cinta beralih pada teman sebaya yang sama jenis kelamin, yaitu pada masa pre remaja.
c) Pada akhirnya remaja menjadikan teman sebaya sebagai obyek cintanya.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Emosi
Munculnya emosi negatif pada diri remaja disebabkan oleh berbagai hal, Hurlock (1980) & Luella Cole(1963) menyimpulkan faktor penyebab yang menimbulkan emosi negatif pada diri remaja, yaitu:
1. Orang tua atau guru meperlakukan mereka seperti anak kecil yang membuat harga diri mereka dilecehkan.
2. Apabila dirintangi membina keakraban dengan lawan jenis.
3. Terlalu banyak dirintangi daripada disokong
4. disikapi secara tidak adil oleh orang tua
5. Merasa kebutuhan tidak dipenuhi oleh orang tua, padahal orang tua mampu.
6. Merasa disikapi secara otoriter, seperti dituntut patuh, banyak dicela hukum dan dihina.
Gejala gangguan emosional pada Remaja antara lain :
1. Depresi atau sedih yang mendalam, biasanya akibat kesedihan yang tidak mendapat tanggapan dari orang lain atau tanggapan yang diterimanya justru meningkatkan kesedihan yang ada. Depresi dapat terjadi akibat kehilangan orang yang sangat dicintai atau kegagalan yang bertubi-tubi dialami.
2. Mudah pingsan, karena terlalu sensitif atau perasa, khususnya terhadap sesuatu yang menakutkan atau menyedihkan.
3. Mudah tersinggung dan sensitif terhadap orang lain. Misalnya sesuatu yang dilihat, didengar atau direspon orang lain, ditanggapi secara impulsif.
4. Sering cemas, karena terlalu banyak memikirkan bahaya atau kegagalan.
5. Sering Ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu atau bertindak ragu-ragu karena terlalu banyak pertimbangan.
E. Ciri-ciri Kematangan Emosi Remaja
Remaja yang sudah mencapai kematangan emosi dapat dilihat dari ciri- ciri tingkah lakunya sebagai berikut :
1. Mandiri dalam artian emosional yaitu bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang lain.
2. Mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya. Mereka tidak cenderung menyalahkan diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain atas kegagalan yang dialaminya.
3. Mampu mengendalikan emosi-emosi negatif, sehingga pemunculannya tidak impulsif.
4. Mampu mengendalikan emosi-emosi negatif, sehingga pemunculannya tidak impulsif.
F. Ciri-ciri Ketidakmatangan Emosi
Remaja yang sudah tidak matang emosinya dapat dilihat dari ciri-ciri tingkah lakunya sebagai berikut :
1. Cenderung melihat sisi negatif dari orang lain.
2. Impulsif, kurang mampu mengendalikan emosi dan mudah emosional.
3. Kurang mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya.
4. Kurang mampu memahami orang lain dan cenderung untuk selalu minta dipahami oleh orang lain.
5. Tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuat dan cenderung menyembunyikannya atau lebih memilih sikap mekanisme pertahanan diri,
G. Cara-cara Meredam Emosi Negatif
Emosi negatif pada dasarnya dapat diredam sehingga tidak menimbulkan efek negatif. Beberapa cara untuk meredamnya itu adalah :
1. Berpikir positif dalam arti mencoba melihat sesuatu peristiwa atau kejadian dari sisi positifnya.
2. Mencoba belajar memahami karakteristik orang lain. Memahami bahwa orang lain memang berbeda dan tidak dapat memaksakan orang lain berbuat sesuai dengan keinginan diri sendiri.
3. Mencoba menghargai pendapat dan kelebihan orang lain. Mereka mendengarkan apa yang dikemukakan orang lain dan mengakui kelebihan orang lain.
4. Introspeksi dan mencoba melihat apabila kejadian yang sama terjadi pada diri sendiri, mereka dapat merasakannya.
5. Bersabar dan menjadi pemaaf. Mengahadapi sesuatu dengan sabar dan maaf
6. Mengalihkan perhatian pada objek yang memicu munculnya emosi.
H. Usaha Untuk Mengembangkan Emosi Remaja
Agar emosi positif pada diri remaja dapat berkembang dengan baik, dapat dirangsang dan disikap oleh orang tua maupun guru. Usaha untuk mengembangkannya adalah :
1. Orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya dalam lingkungan anak (significant person) dapat menjadi model dalam mengekspresikan emosi-emosi negatif, sehingga tampilannya tidak meledak-ledak.
2. Adanya programlatihan beremosi nbaik disekolah maupun didalam keluarga. Misalnya dalam merespon dan menyikapi sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
3. Mempelajari dan mendiskusikan secara mendalam kondisi-kondisi yang cenderung menimbulkan emosi negatif dan upaya-upaya menggapainya secara lebih baik.
Sudah tidak dapat dipungkiri, bahwa Perkembangan Emosi Remaja dalam tumbuh kembangnya memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupannya. Karena remaja yang sehat adalah remaja yang bisa mengontrol emosinya dengan baik.
Dengan adanya ciri-ciri serta usaha untuk mengembangkan emosi remaja secara tepat,secara bertahap diharapkan seorang remaja mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai generasi harapan bangsa.
Untuk itu hendaknya orang tua, guru dan lingkungan masyarakat harus benar-benar dapat memahami bagaimana tumbuh kembang remaja termasuk emosinya.
Pembentukan emosi remaja yang sehat yang bertolak pada pembangunan karakter remaja hendaklah dilaksanakan selain jalur pendidikan, keluarga dan sekolah juga dilaksanakan pada lingkungan.
Selain itu mencipatakan kondisi yang aktual dalam masyarakat hendaklah melalui jalur yang efektif seperti media masa dan organisasi masyarakat, sosial dan politik.
DAFTAR PUSTAKA
Zurayk Ma’ruf. 199. Aku dan anakku : Bimbingan Praktis Mendidik Anak Menuju Remaja. Bandung : Penerbit Albayan.
Schaefer Charles. 1989. Bagaimana Mempengaruhi Anak. Semarang: Dahara Press.
Tim Dosen Pembina Mata Kuliah Perkembangan Peseta Didik UNP.2002. Perkembangan Peserta Didik. Padang: Percetakan UNP.
Pengertian Buku Teks
pengertian buku teks pelajaran adalah ”buku acuan wajib” yang digunakan di sekolah, memuat materi pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan k Persoalannya sekarang, kata “dapat menggunakan” di dalam Permen mengindikasikan bahwa Depdiknas tidak tegas dalam ‘memerintahkan’ para guru untuk menyiapkan bahan ajar mereka sendiri, atau setidaknya, memperkaya buku teks yang mereka pakai di kelas dengan buku-buku atau sumber-sumber yang lain.
Oleh karena itu, jika belum mampu mengembangkan bahan ajar sendiri, atau kebijakan sekolah kebetulan mengharuskan guru untuk memberlakukan satu buku teks bagi siswa-siswanya, maka disarankan berikut ini beberapa hal yang patut dipertimbangkan guru atau sekolah terkait bagaimana memilih buku teks, yaitu: (1) harga buku, (2) ketersediaan buku di pasaran, (3) desain dan tata wajah buku, (4) metodologi pembelajaran yang dipakai, (5) keterampilan bahasa, (6) urut-urutan silabus, (7) topik-topik yang dipilih, (8) buku mengandung atau tidak unsur diskriminasi terkait SARA atau jender, dan (9) ketersediaan dan kualitas buku panduan guru (teacher’s guide).
Ada yang mengatakan bahwa “buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan intruksional” (Hall-Quest, 1915).
Ahli yang lain menjelaskan bahwa “buku teks adalah buku standar/buku setiap cabang khusus studi” dan dapat terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan (Lange, 1940).
Lebih terperinci lagi, ada ahli yang mengemukakan bahwa “buku teks adalah buku yang dirancang buat pengguanaan di kelas, dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar atau ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi” (Bacon, 1935)
Dan ahli yang lain lagi mengutarakan bahwa “buku teks adalah sarana belajar yang biasa digunakan di sekolah-sekolah dan diperguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum dipahami (Buckingham, 1958 : 1523)”.
Dari Telaah Buku Teks, Tarigan & Tarigan, 1986.
Buku Teks
Buku teks atau buku pelajaran berisi informasi tentang ilmu pengetahuan atau pelajaran tertentu, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Buku teks ini termasuk dalam golongan nonfiksi. Buku teks sering dipergunakan oleh para ilmuwan untuk meyebarkan hasil penelitian atau penemuan mereka.
buku teks pelajaran merupakan buku yang dipakai untuk memelajari atau mendalami suatu subjek pengetahuan dan ilmu serta teknologi atau suatu bidang studi, sehingga mengandung penyajian asas-asas tentang subjek tersebut, termasuk karya kepanditaan (scholarly, literary) terkait subjek yang bersangkutan.
ILMU PSIKOLOGI
“Psikologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “psyche” yang artinya Jiwa, dan “Logos” yang artinya Ilmu Pengetahuan. Jadi secara etimologi, psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa,baik mengenai macam- macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya atau disebut juga ilmu jiwa.
Sedangkan jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan- perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tingi dan manusia.
Secara umum psikologi diartikan ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu, dimana individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya.
B. Objek Kajian
Psikologi seringkali banyak berhubungan dengan masalah penyakit mental dan jiwa semenjak ilmu ini berdiri, meskipun dalam perkembangan terakhir juga berkaitan dengan psikologi industri. Secara umum objek studi dari psikologi disebutkan psikologi abstrak dan klinis. Pada intinya psikologi pusat perhatiannya adalah :
Individu dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Namun sering juga psikologi dikatakan ilmu tentang tingkah laku, ilmu pengolahan informasi, ilmu biologi, membatasi diri pada pengalaman yang disadari dalam hubungannya dengan organisme.
1. Sensasi dan Persepsi.
Kekurangan makanan menyebabkan organisme mati, demikian juga kekurangan informasi. Penyesuaian dengan lingkungan sangat ditentukan kemampuan daya organisme. Kemampuan organisme untuk menampung informasi ke analisa tentang organisasi dan pola rangkaian kegiatan syaraf yang rumit; pada titik ini batasan yang lemah yang memisahkan sensasi dan persepsi telah dilintasi. Sensasi dan persepsi mencakup proses dalam hubungannya dengan keputusan- keputusan yang harus dibuat dalam mengenali atau mengklasifikasikan pola- pola stimulasi lingkungan. Satu yang menarik ternyata bukan saja mempengaruhi gangguan emosional dan motivasional. Tapi juga intelektual.
2. Pengenalan dan pemikiran
Pengenalan satu dari tiga kecakapan fikiran. Terutama pengetahuan dan tingkah laku dalam menyelesaikan masalah, model- model pemrosesan informasi.
3. Belajar
Lelah membaca perlu istirahat dan belajar sebagai manusia sosial. Dengan belajar memungkinkan adanya kontrol totaliter yang lengkap.
4. Individu
Model- model tes tentang tingkah laku individu, bakat.
5. Kepribadian
Adalah sesuatu yang memungkinkan lahirnya ramalan tentang apa yang dilakukan oleh seseorang dalam situasi tertentu. Studi ini hampir bersamaan dengan studi tentang perbedaan individual seperti tabiat, emosional dan kekakuan.
6. Motivasi dan Emosi
Bagian dari psikologi kepribadian. Semua perasaan bahkan perasaan yang timbul dari sifat yang relatif acuh tak acuh mengandung beberapa derajat usaha menuju atau menjauh dari beberapa tujuan. Termasuk juga kandungan kesadaran, usaha keras. Sekarang juga coba dikaitkan biologi dengan penganruhnya terhadap motivasi dan emosi. Beberapa psikolog menunjukkan tentang ransangan lingkungan terhadap motivasi dan emosi.
1. Psikologi Umum ialah psikologi yang mempelajari dan menyelidiki kegiatan- kegiatan atau aktifitas- aktifitas psikis manusia pada umumnya yang dewasa, yang normal dan berkultur.
Psikologi umum berusaha mencari dalil-dalil yang bersifat umum daripada kegiatan- kegiatan atau aktifitas psikis
2. Psikologi khusus ialah psikologi yang mempelajari dan menyelidiki segi-segi kekhususan dari aktifitas- aktifitas psikis manusia.
Hal- hal yang khusus, yang menyimpang dari hal- hal yang umum dibicarakan dalam psikologi khusus.
Psikologi khusus masih berkembang terus sesuai dengan bidang- bidang berperannya psikologi pada umumnya psikologi khusus merupakan psikologi praktis, yang diaplikasikan sesuai dengan bidangnya . Psikologi yang dapat dipelajari secara teoritik apabila orang dalam mempelajari psikologi itu demi untuk ilmu itu sendiri, tidak dihubungkan dengan soal praktek. Dalam segi praktis ini orang mencari jalan bagaimana dapat mempraktekkan psikologi untuk kehidupan sehari- hari.
Psikologi yang dipelajari secara praktis dapat dipraktekkan dalam bermacam- macam bidang, misalnya dalam bidang pendidikan( psikologi pendidikan), dalam bidang industri atau perusahaan, dalam bidang klinik (psikologi klinik) dan sebagainya.
Psikologi khusus dikelompokkan sebagai berikut :
1. Psikologi Perkembangan (genetis).
Yaitu psikologi yang membicarakan perkembanagn psikis manusia dari masa bayi sampai tua, yang mencakup :
1. Psikologi anak (mencakup masa bayi )
2. psikologi puber dan adolensensi (psikologi pemuda)
3. Psikologi orang dewasa
4. psikologi orang tua
Ilmu ini mempelajari psyche jiwa dan perkembangan kehidupan psikis manusia normal.
Hal ini terbagi :
a) Perkembangan dari kehidupan individual, termasuk psikologi bayi, anak, anak usia seksual, psikologi puber, remaja dan adolesens, psikologi kakek- kakek(geranthologi)
b) Perkembangan kehidupan manusia pada umumnya.
2. Psikologi Abnormal/ psikologi dari kelompok- kelompok manusia yang tidak normal.
a) Psikologi kriminal yaitu mempelajari tingkah laku menyeleweng dari norma- norma umum serta hukum dan melakukan tindakan kriminal.
b) Psikopatologi yaitu psikologi yang mempelajari gejala kejiwaan yang sakit dan pola tingkah laku yang menyimpang dan pola- pola normal, sebagai akibat dari faktor- faktor keturunan atau hereditas.
c) Patologi sosial yaitu cabang psikologi yang mempelajari gangguan-gangguan kejiwaan dan tingkah laku yang menyimpang, sebagai akibat dr faktor- faktor millieu, lingkungan sosial dan sosio budaya.
3. Psikologi kelompok
a. Psikologi yang mempelajari kelompok- kelompok sosial tertentu.
Misalnya : kelompok- kelompok buruh, pekerja kasar, petani, nelayan, seniman, mahasiswa, pelajar, militer, polisi dan sebagainya.
b. Psikologi yang mempelajari kelompok- kelompok biologis sekte( wanita, pria, anak- anak, orang muda, orang tua)ras, suku, clan dan bangsa.
c. Psikologi yang mempelajari kelompok- kelompok hitoris ethnologis : orang- orang jerman, hindu dan sebagainya.
4. Psikologi watak dan type- type,termasuk didalamnya ialah : ajaran temperamen, karatelogi ( ilmu watak) dan teori kepribadian.
5. Psikologi kelompok dalam situasi khusus
Didalamnya dikelompokkan antara lain : psikologi perang, psikologi masa damai.
6. Psikologi hewan.
Yaitu psikologi yang mempelajari tingkah laku dan perkembangan hewan.
7. Parapsikologi (para= samping, dekat, melampaui)
Yaitu psikologi yang mempelajari gejala- gejala kejiwaan yang ada diluar bidang psikologi biasa atau psikologi umum. Psikologi ini mempelajari gejala kerohanian terlepas dari gejala badaniah.
C. Kegunaan
Ilmu ini berguna untuk mempelajari manusia dan lingkungannya, hewan dan lingkungannya. Tingkah laku manusai dipelajari agar manusai dapt hidup lebih baik, dengan mengetahui perkembangan dan kondisi jiwa itu sendiri. Sehingga dalam kehidupan sehari- hari, manusia dapat melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih menarik dan lebih berpola.
D. Metode
a Metode yang bersifat Filosofis
1. Metode Inuitip
Dilakukan dengan cara sengaja untuk mengadakan suatu penyelidikan atau denga cara tidak sengaja dalam pergaulan sehari- hari.. penilaiannya melalui kesan- kesan terhadap orang yang dijadikan objek.
2. Metode kontemplatif
Dilakukan dengan cara merenungkan objek yang akan diketahui dengan mempergunakan kemampuan berpikir kita. Alat utama yang dipergunakan adalah pikiran yang benar- benar sudah dalam keadaan obyektif.
3. Metode filosofis Religius
Metode ini mempergunakan materi- materi agama, sebagai alat utama untuk meneliti pribadi manusia.
b Metode yang bersifat Empiris..
1. Metode observasi
Ialah metode untuk mempelajari kejiwaan dengan sengaja mengamati secara langsung, teliti dan sistematis.
2. Metode pengumpulan bahan
Ialah suatu penyelidikan yang dilakukan dengan mengolah data- data yang didapat dari kumpulan daftar pertanyaan dan jawaban (angket), bahan-bahan riwayat hidup ataupun bahan lain yang berhubungan.
3. Metode Eksperimen (percobaan)
Bertujuan untuk mengetahui sifat- sifat umum dari gejala- gejala kejiwaan.
4. Metode klinis
Ialah kombinasi dari bantuan klinis – medis dengan metode pendidikan, untuk melakukan observasi terhadap pasien.
5. Metode interview
Ialah penylidikan yang menggunakan pertanyaan berupa interview yang diberikan secara lisan.
6. Metode testing
Ialah metode yang menggunakan soal- soal, pertanyaan- pertanyaan atau tugas- tugas lain yang telah distandarisasikan.
HARAPAN DAN TANTANGAN HOME SCHOOLING :SEBAGAI PENDIDIKAN ALTERNATIF DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
Oleh :
Lyna Maghfirah, 07/ 84801
Pendidikan Sosiologi Antropologi
![]()
Abstrak
Gambaran dunia pendidikan dewasa ini memberikan tantangan baru bagi para pakar dan praktisi pendidikan, dengan munculnya berbagai tuntutan orang tua serta masyarakat yang mengeluhkan sistem pendidikan di Indonesia. Dan dihadapkan pada kenyataan para orang tua memilih pendidikan alternatif sebagai solusinya. Pendidikan alternatif seperti home schooling diharapkan dapat memenuhi harapan para orang tua sesuai dengan perkembangan informasi dan teknologi dalam era globalisasi.
![]()
A. Pendahuluan
Pendidikan formal merupakan suatu hal yang wajib bagi bagi anak- anak usia sekolah. Sebagian besar kalangan masyarakat memanfaatkan lembaga pendidikan seperti SMP Terbuka dan SMA Terbuka untuk mewujudkan cita-citanya dalam membangun kecerdasan yang solid selain dari SD, SMP, SMA yang banyak memberikan fasilitas Proses Belajar Mengajar (PBM) yang dipercaya dan mempunyai nilai tertentu oleh pemerintah dan mudah untuk melanjutkan ke perguruan yang lebih tinggi.
Masyarakat membutuhkan pendidikan untuk membangun generasi yang lebih baik. Dengan melihat kondisi kebutuhan pendidikan di Indonesia pada saat sekarang ini, masyarakat menginginkan pendidikan formal yang tidak terbelenggu oleh tempat dan waktu belajar seperti halnya disekolah. Apabila kita melihat sekolah-sekolah sekarang, kita akan menemukan bahwa sekolah-sekolah itu membagi para murid hanya berdasarkan umur tanpa melihat kecerdasan mereka. Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa kelas seperti itu membuat sebagian anak dapat maju dengan cepat. Sedangkan murid-murid yang bodoh akan ketinggalan dengan murid yang cerdas[1]. Hal ini menyebabkan mutu lulusan pendidikan berbeda-beda sehingga para orang tua merasa tidak puas. Pada akhirnya para orang tua sangat menginginkan sistem pendidikan yang benar-benar sesuai dengan tingkat kecerdasan, hobi serta minat dan bakat.
Diantara berbagai tuntutan masyarakat adalah adanya sekolah alternatif yang cenderung praktis dan lebih efektif mengglobalisasikan esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik yang sering kita kenal dengan istilah Home Schooling. Home Schooling adalah proses kegiatan belajar yang dilakukan di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa saja[2].
Bagi praktisi pendidikan sendiri, substansi pendidikan home schooling secara simplitis inheren dengan SMP Terbuka, SMA Terbuka, Universitas Terbuka atau yang sekarang sedang trend adalah e-learning. Fleksibilitas konsep pendidikan home schooling mengacu kepada koetensi praktis hubungan antara keterikatan/ kemauan dan hoby individual para siswa dengan orientasi cita-citanya dalam bekerja atau menguasai bidang- bidang tertentu. Hal tersebut juga diukur dari metode belajar-mengajar yang tidak terbelenggu dimensi ruang dan waktu secara formal serta menjamin tingkat kompetensi terealisir dengan baik.[3]
Namun sebagian masyarakat masih ada yang menilai bahwa home schooling hanyalah pendidikan alternatif bagi golongan berada yang mampu secara mandiri membiayai anak-anaknya. Oleh sebab itu tugas kita bersama adalah bagaimana membuat sistem pendidikan alternatif bagi anank-anak yang tidak mampu untuk bisa bersekolah.
Permasalahan yang mengganjal dalam pemikiran masyarakat umum dalam menerima home schooling menjadi pendidikan alternatif adalah bagaimana standar kuantitatif dan kurikulum belajar home schooling dan siapa yang menjadi staff pengajarnya, karena kebanyakan masyarakat menilai sistem home schooling hanya sebagai isapan jempol semata. Lalu bagaimana kualitas pendidikan anak yang mengikuti pendidikan home schooling tanpa duduk di bangku sekolah seperti SD, SMP dan SMA. Apakah tamatan home schooling dapat diterima di sekolah lain atau perguruan tinggi, dan apakah status ijazah yang dikeluarkan sama disamakan dengan sekolah umum dan berlaku dalam dunia kerja nantinya. Hal tersebut merupakan permasalahan yang menyebabkan sebagian orang masih meragukan mutu dan lulusan home schooling.
B. Harapan dan Tantangan Home Schooling
Home schooling pada saat ini bukan lagi sebuah wacana. Sudah banyak yang mulai mencobanya. Akan tetapi, persoalan tentang legalitas masih saja menjadi bahan pembicaraan bahkan menjadi sebuah polemik. Orang tua membutuhkan panduan dalam membimbing anak-anak, meski tidak selalu harus menjadi guru dalam pengertian guru yang berdiri di depan kelas.
Homeschooling merupakan pendidikan alternatif yang berbasis rumah. Namun faktanya, dewasa ini makna homeschooling menjadi bias. Menjamurnya "sekolah" berlabel homeschooling di beberapa tempat, membuat homeschooling menjadi sebuah istilah yang tak bisa dicerna dari akar kata.
Setelah melewati berbagai pengkajian, bisa katakan bahwa homeschooling membutuhkan pertanggungjawaban dari kalangan pendidikan. Karena dikhawatirkan homeschooling hanya menjadi pemicu untuk merebaknya gerakan anti sekolah yang didasari oleh kemalasan. Karena bukan tidak mungkin, peminat homeschooling yang tidak siap secara mental dan skill, mereka tidak hanya meninggalkan sekolah tetapi juga meninggalkan belajar. Selain itu homeschooling juga memiliki resiko. Dalam memilih homeschooling diperlukan perhitungan yang matang dan sesuai dengan kondisi serta kesiapan dari orang tua dan anak-anak.
Didalam home schooling, masing-masing peserta didik atau yang dikenal dengan istilah home schooler diberi kebebasan dalam memilih pembelajaran tetapi tentunya tidak terlepas dari kurikulum. Standar kuantitatif Kurikulum yang dipakai dalam home schooling seperti data yang diperoleh berdasarkan home schooling yang didirikan dan dikelola oleh Seto Mulyadi adalah adalah kurikulum 2004 yaitu kurikulum berbasis kompetensi, atau kurikulum terbaru kurikulum 2006.
Acuan ini dipakai karena nantinya di ujung proses pendidikan home schooling, para home schooler harus menempuh ujian kesetaraan. Seperti dalam pendidikan formal dikenal dengan Ujian Nasional (UN), sedangkan di pendidikan non formal komunitas ini, ujian kesetaraannnya diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) atau komunitas yang sudah mendapatkan legalitas untuk bisa menyelenggarakan ujian tersendiri. Berbeda dengan sekolah umum, dalam home schooling bagi yang sudah bosan di kelas dua atau tidak nyaman di pendidikan formal, anak tersebut dapat pindah ke kelas tiga di home scholing. Hal tersebut tidak menjadi masalah karena berdasarkan prinsip Diknas bagi home schooling adalah multi entry and multi exit atau mudah untuk masuk dan mudah untuk keluar. Legalitasnya pun sudah dijamin oleh pemerintah dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD, SMP, maupun SMA[4]. Untuk staff pengajar, home schooling mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial. Mereka terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan yang dipersiapkan untuk menjadi tutor yang handal dan profesional.
Meski disebut home schooling , tidak berarti seorang anak terus-menerus belajar di rumah. Anak-anak bisa belajar di mana saja dan kapan saja asal situasi dan kondisinya benar-benar nyaman dan menyenangkan seperti di rumah. Karena itu dalam sistem home schooling, jam pelajaran bersifat fleksibel, mulai dari bangun tidur sampai berangkat tidur kembali. Metode pembelajaran home schooling bersifat tematik dan konseptual serta aplikatif contohnya untuk tingkatan SD, dalam mempelajari alat transportasi maka home schooler biasanya langsung terjun ke lapangan untuk melihat langsung bagaimana alat transportasi itu. Setelah itu mereka diberi tes atau evaluasi mengenai apa yang mereka lakukan didalam praktek tersebut.
Umumnya frekuensi belajar home schooling dua kali dalam satu minggu sebanyak tiga jam untuk masing-masing pertemuan. Home schooler diarahkan agar banyak belajar dirumah, pada lingkungan atau tempat yang disukai dan benar benar nyaman serta efektif seperti dirumah. Metoda pengajaran yang dipakai berdasarkan pemilik home schooling, tetapi bisa juaga berdasarkan kurikulum nasonal yang materinya bisa didapatkan di toko- toko buku.
Di sejumlah negara maju, konsep sekolah di rumah (home schooling) bukanlah hal yang baru. Di Indonesia, home schooling mulai dilirik banyak orang tua, awalnya karena dipicu oleh kekecewaan terhadap sistem pendidikan nasional yang diterapkan pemerintah. Para orang tua mencari sistem pendidikan alternatif layaknya home schooling. Lewat sistem pendidikan ini ternyata tidak menghalangi para siswa terus berprestasi.
Dari segi sosialisasi anak-anak home schooling begitu terjaga. Karena orang tua ataupun para tutor langsung membawa mereka pada objek yang akan mereka pelajari. Sedangkan dalam pendidikan formal ada keterbatasannya. Teman-temannya terbatas pada orang yang sama karena satu lingkup ruang sekolah. Sosialisasi di home schooling juga cukup efektif karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk berhubungan lewat internet dan kesempatan untuk pergi keluar. Yang paling terpenting adalah anak-anak home schooling diberikan kemandirian dalam belajar dan mengambil keputusan. Anak-anak tersebut juga diberikan wawasan mengenai kewirausahaan. Jadi sejak dini mereka sudah dilatih untuk bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain.
Kualitas lulusan home schooling tidak berbeda dengan lulusan sekolah biasa. Hal ini terbukti dengan sudah banyaknya lulusan home schooling yang berhasil diterima di berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Oleh karena itu, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) saat ini sedang mempersiapkan sistem pendidikan khusus program home schooling. Dan mulai mendorong banyak pihak agar menyelenggarakan program serupa. Selain efektif, model pendidikan home schooling juga dinilai cocok untuk membantu menyukseskan program wajib belajar.5 Keberadaan ijazah pada mulanya, bisa jadi memiliki tujuan filosofis yang lebih tinggi dari sekedar tanda lulus. Ijazah adalah simbol dari keseriusan belajar anak sekolah dalam masa pendidikannya. Kalau kemudian terjadi degradasi nilai pada ijazah, itulah anomali dari sebuah konsep. Kita pun akan menemukan hal itu di bidang apapun di luar bidang pendidikan.
Pendidikan alternatif mendapatkan perhatian khusus dari Diknas. Pada saat ini sudah ada Direktorat Pendidikan Kesetaraan. Yang merupakan pecahan dari Sub Direktorat Pendidikan Masyarakat untuk merespons home schooling. Masyarakat tidak perlu khawatir untuk mendapatkan ijazah kesetaraan. Di SD ada ijazah kesetaraan untuk tingkat SD. Orang yang mengikuti home schooling bisa mengikuti ujian kesetaraan dan jika lulus akan mendapatkan ijazah Kesetaraan SD, lalu SMP dan juga SMA. Ijazah ini bisa diterima oleh berbagai sekolah dan universitas. Karena sudah mendapatkan legalitas dari pemerintah.
Home schooler memiliki suatu wadah baik tunggal, majemuk, ataupun komunitas. Wadah tersebut bernama Asah Pena. Asah Pena dibentuk atas keinginan masyarakat dan didukung oleh Depertemen Pendidikan Nasional. Hal ini cukup efektif karena selama ini pendidikan alternatif selalu dicitrakan sebagai pendidikan yang kurang berkualitas. Pada tanggal 10 Januari 2007, Asah Pena baru saja menandatangani MoU (memorandum of Understanding) dengan pemerintah. Dengan adanya Asah Pena, maka sekolah alternatif, home schooling, dan sebagainya bisa didata secara administratif.
Dalam home schooling yang menjadi kelemahannya yaitu tidak ada kompetisi atau persaingan. Akan tetapi keunggulan yang paling dominan adalah dengan terbatasnya jumlah peserta didik maka tutor bisa langsung fokus pada potensi masing-masing anak peserta didik. Di home schooling peserta didik diarahkan sesuai dengan bakat dan potensi masing-masing. Ujian kesetaraan itu nanti ada yang namanya percepatan yang mungkin kualitasnya masih di bawah Ujian Nasional, tapi mereka bisa dipermudah dengan program percepatan. Misalnya, untuk menghadapi ujian biasanya kita intensif untuk tutorial terus selama dua bulan.
Seperti pada data yang didapat pada sistem pendidikan yang diberlakukan FISHomeschooling Indonesia yang berada di Serpong, Tanggerang. Sebelum mengikuti pendidikan para calon home schooler terlebih dahulu memberikan uang muka dan membayar iuran bulanan selama satu tahun (10 bulan). Setelah semua kewajiban dilunasi, para siswa akan mendapatkan dua keping CD berisi materi utama pelajaran (matematika, bahasa Inggris, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial). Materi tambahan lainnya bisa diperoleh dengan mengakses lewat internet. Lalu setiap lima bulan, peserta didik akan menempuh tes layaknya evaluasi belajar di sekolah formal. Para siswa dalam program ini hanya diminta mengikuti ujian paket belajar A, B, dan C. Bila lulus, mereka berhak memperoleh ijazah yang diakui pemerintah. Dan bisa dipergunakan untuk melanjutkan pendidikan atau digunakan untuk mencari pekerjaan.
C. Simpulan
Salah satu faktor yang mempengaruhi mengapa terjadi pergeseran dinamika persepsi masyarakat terhadap pola pendidikan di Indonesia salah satunya adalah karena para orang tua murid sudah begitu menyadari bahwa sudah lama pendidikan kita dibayangi oleh tingginya kekerasan sosiologis yang selama ini terjadi dalam interaksi dunia pendidikan kita. Kasus tawuran, seks bebas dan narkoba di kalangan pelajar dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit adalah salah satu faktor yang menyebabkan diantara para orang tua terbangun landasan berfikirnya untuk mrlakukan terobosan mencari pendidikan alternatif yang membuat anak-anak mereka aman dari rezim diktatorianisme pendidik terhadap peserta didik yang selama ini telah menjadi budaya dalam pola pendidikan Indonesia.
Dari berbagai data dan fakta yang didapat, bahwa home schooling memang bisa dijadikan pendidikan alternatif yang efisien dan efektif yang banyak dipilih oleh para orang tua untuk anak-anaknya dalam menempuh pendidikan pada era globalisasi sekarang ini, namun hal ini dikembalikan pada tujuan yang diarahkan oleh orang tua pada anaknya, kemana anak mereka akan diarahkan, pendidikan seperti apa yang akan mereka berikan kepada anak-anaknya. Karena dalam perkembangan pendidikan anak menuju masa depannya orang tua memiliki peranan yang sangat besar.
Dan bagi para pendiri dan pengelola home schooling sendiri hendaknya dapat mengelola dan mengembangkan home schooling sesuai dengan harapan para orang tua. Agar menjadi sarana pendidikan yang benar-benar memberikan kualitas dalam dunia pendidikan di Indonesia nantinya.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Isjoni. 2005. Wajah Baru Pendidikan Kita. Pekanbaru : Unripress.
Zurayk, Ma’ruf.1994. Aku dan Anakku: Bimbingan Praktis Mendidik Anak Menuju Remaja. Bandung: Penerbit Albayan.
Dr.Irmawati.2008. Home Schooling Pendidikan Alternatif, (online) (http://www.harianglobal.com, diakses 19 oktober 2008).
Jerry Mints.1994. Apakah Home Schooling sudah diakui di Indonesia?, (online) (http://www.kabarinews.com/article.cfm, diakses 19 oktober 2008).
Seto Mulyadi. 2008. Kak Seto Prihatin Kurikulum Pendidikan Indonesia. (online) (http://www.kilasberita.com, diakses 19 oktober 2008).
Prof. Dr.Yusufhadi Miarso.2006. Pendidikan Alternatif di Indonesia, Teknologi Pendidikan, (online) (http://teknologipendidikan.wordpress.com, diakses 13 oktober 2008).
[1] Ma’ruf Zurayk,Aku dan Anakku: Bimbingan Praktis menuju remaja,(
[2] Dhanang Sasongko, Kebijakan Diknas dalam Pendidikan Luar Sekolah(online),http://teknologipendidikan.wordpress.com
[3] Seto Mulyadi, Kak Seto Prihatin Kurikulum Pendidikan Indonesia. (online) (http://www.kilasberita.com,
[4] Ibid. Hal. 2.