Rabu, 08 Januari 2014
Orang Tuamu Bukan Pengasuh Anakmu
Apakah tidak boleh anak-anak diasuh oleh kakek atau neneknya? Tentu boleh. Tetapi pastikan dulu bahwa orang tua sangat senang dan tidak keberatan. Selain itu, pastikan juga cara mendidiknya tepat dan sesuai perkembangan zaman. Sebab betapa banyak kakek dan nenek yang begitu memanjakan saat mengasuh cucunya. Semua yang diminta sang cucu diberikan hanya karena ia tidak tega mendengar tangisannya.
Komunikasi dengan orang tua Anda alias kakek-nenek dari anak Anda harus intensif. Tidak boleh ada beda pemahaman saat mendidik anak. Apa yang Anda larang tidak boleh dilakukan anak-anak juga harus dilarang oleh orang tua Anda. Begitu juga apa yang Anda setujui, orang tua Anda juga harus menyetujui.
Guru itu “Digugu” dan Ditiru
Oleh karena itulah saya sangat menghargai saudara-saudara saya yang memilih profesi sebagai guru. Salah satunya adalah mas Toha yang kini menjadi kepala sekolah SMA Dian Didaktika, Cinere, Depok, Jawa Barat. Lelaki berambut putih ini adalah anak dari pakde saya. Sebagian besar anak pakde dari jalur ibu ini adalah guru, atau paling tidak pasangan hidupnya guru.
Mas Toha sangat menjiwai dan menekuni profesinya sebagai guru. Oleh karena itu saya sangat yakin, sentuhan tangan dinginnya akan membuat sekolah yang dipimpinnya menuai banyak prestasi. Guru juga bisa bermakna “digugu” (didengarkan) dan ditiru. Dan sejujurnya, cara hidup saya banyak meniru mas Toha ini.
Senin, 06 Januari 2014
Emosi Pada Remaja
Jumat, 27 Maret 2009
Perkembangan Emosi Remaja
Target yang hendak dicapai melalui dasar-dasar pendidikan dan yang juga dirancang oleh lembaga-lembaga pendidikan adalah menyiapkan generasi yang unggul dan mampu menghadapi segala persoalan yang dihadapinya. Disamping itu, tujuan lain yang hendak kita harapkan pada generasi yang akan datang adalah generasi yang memiliki mental yang kuat dan rasa percaya diri.
Seorang remaja hendaklah kuat jasmaninya, tidak sakit-sakitan dan lemah. Sebab akal yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat, gemar berolahraga, memperhatikan kebersihan, mengikuti petunjuk-petunjuk kesehatan dengan cara menerapkannya pada diri sendiri.Jauh dari kebiasaan-kebiasaan yang membahayakan fisik maupun akal seperti narkoba dan minuman keras atau sejenisnya. Secara kejiawaan bebas dari berbagai problem kejiwaan an menikmati keharmonisan jiwa dan perasaan- perasaan positif yang lain.
Remaja berada dalam periode yang banyak mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan khususnya menyangkut dengan penyesuaian diri terhadap tuntutan lingkungan dan masyarakat serta orang dewasa. Kematangan hormon seks yang ditandai dengan datangnya menstruasi bagi remaja putri dan keluarnya mani melalui mimpi basah pada remaja putra dapat menimbulkan kebingungan dan perasaan cemas, khususnya apabila mereka belum disiapkan untuk menyikapi peristiwa tersebut secara positif. Perubahan-perubahan yang dialami tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan dan hubungan sosial remaja. Para remaja mulai tertarik kepada lawan jenis, ketertarikan ini disatu sisi dapat menimbulkan konflik dalam diri mereka karena mungkin muncul perasaan malu, kurang percaya diri dan kebingungan dalam penyesuaian diri, agar bertingkah laku seperti yang dinginkan orang dewasa.
Kecenderungan tingginya gejolek emosi remajaperlu dipahami oleh pendidik khususnya orangtua dan guru. Untuk itu perlu dihindari hal- hal yang dapat menimbulkan emosi negati seperti marah, sedih, kecewa, frustasi, cemas dan lainnya.
Banyak penelitian membuktikan bahwa salah satu penyebab remaja menjadi nakal adalah karena mengalami gangguan emosi menibulkan rasa tidak aman dan tidak puas terhadap kehidupan sehari-hari. Selanjutnya dapat timbul kebencian dan kecemburuan terhadap orang- orang yang lebih beruntung dan bahagia. Akibat dari semuanya ini sering mereka melakukan tindakan yang merusak dan menyakiti orang lain.
A.Pengertian Emosi
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah suatu keadaan kejiwaan yang mewarnai tingkah laku. Emosi dapat juga diartikan sebagai suatu reaksi psikologis yang ditampilkan dalam bentuk tingkah laku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, haru dan sejenisnya.
Biasanya emosi muncul dalam bentuk luapan perasaan, dan surut dalam waktu yang singkat. Hathersall (1985), merumuskan pengertian emosi sebagai situasi psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Emosi sering didefinisikan dalam istilah perasaan (feeling): misalnya pengalaman-pengalaman afektif, kenikmatan atau ketidaknikmatan, marah, takut, bahagia, sedih dan jijik. Emosi juga sering berhubungan dengan ekspresi tingkah laku dan respon-respon fidiologis.
B.Jenis- Jenis Emosi
Berasarkan sebab dan reaksi yang ditimbulkan, emosi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
1 Emosi yang berkaitan dengan perasaan (syaraf-syaraf jasmaniah), misalnya perasaan dingin, panas, hangat, sejuk dan sebagainya. Munculnya emosi seperti ini lebih banyak dirasakan karena faktor fisik diluar individu, misalnya cuaca, kondisi ruangan dan tempat dimana individu itu berada.
2 Emosi yang berkaitan dengan kondisi fisiologis, misalnya sakit, meriang dan sebagainya. Munculnya emosi sepertinini lebih banyak dirasakan karena faktor kesehatan.
3 Emosi yang berkaitan dengan kondisi psikologis, misalnya cinta, rindu, sayang, benci dan sejenisnya. Munculnya emosi seperti ini lebih banyak dirasakan karena faktor hubungan dengan orang lain.
C. Karakteristik Emosi pada Masa Remaja
Remaja memiliki karakteristik pemunculan emosi yang berbeda bila dibandingkan dengan masa kanak-kanak maupun dengan orang dewasa. Emosi remaja seringkali meluap-luap (tinggi) dan emosi negatif mereka lebih mudah muncul. Keadaan ini lebih banyak disebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka dan lingkungan yang menahalangi terpuaskannya kebutuhan tersebut ( Hurlock, 1980). Luella Cole (1963) mengemukakan bahwa ada 3 (tiga) jenis emosi yang menonjol pada periode remaja, yaitu :
1 Emosi marah
Emosi marah lebih mudah timbul apabila dibandingkan dengan emosi lainnya dalam kehidupan remaja. Penyebab timbulnya emosi marah pada remaja ialah apabila mereka direndahkan, dipermalukan, dihina atau dipojokkan dihadapan kawan-kawannya. Remaja yang sudah cukup matang menunjukkan rasa marahnya tidak lagi dengan berkelahi seperti pada masa kakank-kanak sebelumnya. Kadang-kadang juga remaja melakukan tindakan kekerasan dalam melampiaskan emosi marah, meskipun mereka berusaha menekan keinginan untuk bertingkah laku seperti itu. Pada dasarnya remaja cenderung mengganti emosi kekanak-kanakan mereka dengan cara yang lebih sopan.
2 Emosi Takut
Ketakutan yang dialami selama masa remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Ketakutan terhadap masalah atas siakp orang tua yang tidak adil dan cenderung menolak didalam keluarga.
b. Ketakutan terhadap masalah mendapatkan status baik dalam kelompok sebaya maupun dalam keluarga.
c. Ketakutan terhadap masalah penyesuaian pendidikan, atau pilihan pendidikan yang sesaui dengan kemampuan dan cita- cita.
d. Ketakutan terhadap masalah pilihan jabatan yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan.
e. Ketakutan terhadap masalah-masalah seks.
f. Ketakutan terhadap ancaman keberadaan diri.
Pada saat akhir masa remaja dan memasuki perkembangan dewasa awal, ketakutan atau kecemasan yang baru muncul adalah menyangkut masalah keuangan, pekerjaan, kemunduran usaha, pendirian/ pandangan politik , kepercayaan/ agama, perkawinan dan keluarga. Remaja yang sudah matang akan berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang menimbulkan rasa takutnya
3 Emosi Cinta
Emosi telah ada pada diri anak semenjak bayi dan terus berkembang hingga dewasa. Sedangkan pada masa remaja, rasa cinta diarahkan kepada lawan jenis. Pada masa bayi rasa cinta diarahkan pada orang tua terutama kepada ibu. Pada masa kanak-kanak (3-5 tahun) rasa cinta diarahkan pada orang tua yang berbeda jenis kelamin, misalnya anak laki-laki akan jatuh cinta pada ibu dan anak perempuan pada ayah. Pada masa remaja arah dan objek cinta itu berubah terhadap teman sebaya yang berlawanan jenis.
Beberapa situasi yang mendorong remaja putri untuk menyayangi wanita secara berlebihan, yaitu :
1 Wanita tersebut dirasakan dapat membantu ,engatasi kesulitan yang dihadapinya.
2 Wanita itu dapat dijadikan sebagai pengganti ibunya, apabila jauh dari ibunya yang dijadikan figur atau kehilangan kasih sayang ari ibunya karena perceraian atau meninggal dunia.
3 Wanita tersebut dirasakan sangat menyayanginya dan ia berasal dari keluarga yang menolak dirinya
4 Karena tidak populer diantara teman pria, merasa sangat malu dan takut kepada teman pria, atau mempunyai pengalaman yang menyakitkan dengan pria.
Remaja wanita yang mengalami perkembangan perasaan cinta yang normal adalah jika remaja mengarahkan rasa cintanya kepada pemuda sesama remaja. Demikian juga dengan remaja pria yang mempunyai cinta yang normal mengarahkan cintanya pada seorang gadis.
Pada akhir masa remaja,mereka memilih satu lawan jenis yang paling disayangi. Perkembangan yang normal mengenai emosi cinta dapat disimpulkan sebagai berikut:
a) Objek cinta mula-mula adalah orang dewasa yang sejenis atau berbeda jenis.
b) Kemudian ojek cinta beralih pada teman sebaya yang sama jenis kelamin, yaitu pada masa pre remaja.
c) Pada akhirnya remaja menjadikan teman sebaya sebagai obyek cintanya.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Emosi
Munculnya emosi negatif pada diri remaja disebabkan oleh berbagai hal, Hurlock (1980) & Luella Cole(1963) menyimpulkan faktor penyebab yang menimbulkan emosi negatif pada diri remaja, yaitu:
1. Orang tua atau guru meperlakukan mereka seperti anak kecil yang membuat harga diri mereka dilecehkan.
2. Apabila dirintangi membina keakraban dengan lawan jenis.
3. Terlalu banyak dirintangi daripada disokong
4. disikapi secara tidak adil oleh orang tua
5. Merasa kebutuhan tidak dipenuhi oleh orang tua, padahal orang tua mampu.
6. Merasa disikapi secara otoriter, seperti dituntut patuh, banyak dicela hukum dan dihina.
Gejala gangguan emosional pada Remaja antara lain :
1. Depresi atau sedih yang mendalam, biasanya akibat kesedihan yang tidak mendapat tanggapan dari orang lain atau tanggapan yang diterimanya justru meningkatkan kesedihan yang ada. Depresi dapat terjadi akibat kehilangan orang yang sangat dicintai atau kegagalan yang bertubi-tubi dialami.
2. Mudah pingsan, karena terlalu sensitif atau perasa, khususnya terhadap sesuatu yang menakutkan atau menyedihkan.
3. Mudah tersinggung dan sensitif terhadap orang lain. Misalnya sesuatu yang dilihat, didengar atau direspon orang lain, ditanggapi secara impulsif.
4. Sering cemas, karena terlalu banyak memikirkan bahaya atau kegagalan.
5. Sering Ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu atau bertindak ragu-ragu karena terlalu banyak pertimbangan.
E. Ciri-ciri Kematangan Emosi Remaja
Remaja yang sudah mencapai kematangan emosi dapat dilihat dari ciri- ciri tingkah lakunya sebagai berikut :
1. Mandiri dalam artian emosional yaitu bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang lain.
2. Mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya. Mereka tidak cenderung menyalahkan diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain atas kegagalan yang dialaminya.
3. Mampu mengendalikan emosi-emosi negatif, sehingga pemunculannya tidak impulsif.
4. Mampu mengendalikan emosi-emosi negatif, sehingga pemunculannya tidak impulsif.
F. Ciri-ciri Ketidakmatangan Emosi
Remaja yang sudah tidak matang emosinya dapat dilihat dari ciri-ciri tingkah lakunya sebagai berikut :
1. Cenderung melihat sisi negatif dari orang lain.
2. Impulsif, kurang mampu mengendalikan emosi dan mudah emosional.
3. Kurang mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya.
4. Kurang mampu memahami orang lain dan cenderung untuk selalu minta dipahami oleh orang lain.
5. Tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuat dan cenderung menyembunyikannya atau lebih memilih sikap mekanisme pertahanan diri,
G. Cara-cara Meredam Emosi Negatif
Emosi negatif pada dasarnya dapat diredam sehingga tidak menimbulkan efek negatif. Beberapa cara untuk meredamnya itu adalah :
1. Berpikir positif dalam arti mencoba melihat sesuatu peristiwa atau kejadian dari sisi positifnya.
2. Mencoba belajar memahami karakteristik orang lain. Memahami bahwa orang lain memang berbeda dan tidak dapat memaksakan orang lain berbuat sesuai dengan keinginan diri sendiri.
3. Mencoba menghargai pendapat dan kelebihan orang lain. Mereka mendengarkan apa yang dikemukakan orang lain dan mengakui kelebihan orang lain.
4. Introspeksi dan mencoba melihat apabila kejadian yang sama terjadi pada diri sendiri, mereka dapat merasakannya.
5. Bersabar dan menjadi pemaaf. Mengahadapi sesuatu dengan sabar dan maaf
6. Mengalihkan perhatian pada objek yang memicu munculnya emosi.
H. Usaha Untuk Mengembangkan Emosi Remaja
Agar emosi positif pada diri remaja dapat berkembang dengan baik, dapat dirangsang dan disikap oleh orang tua maupun guru. Usaha untuk mengembangkannya adalah :
1. Orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya dalam lingkungan anak (significant person) dapat menjadi model dalam mengekspresikan emosi-emosi negatif, sehingga tampilannya tidak meledak-ledak.
2. Adanya programlatihan beremosi nbaik disekolah maupun didalam keluarga. Misalnya dalam merespon dan menyikapi sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
3. Mempelajari dan mendiskusikan secara mendalam kondisi-kondisi yang cenderung menimbulkan emosi negatif dan upaya-upaya menggapainya secara lebih baik.
Sudah tidak dapat dipungkiri, bahwa Perkembangan Emosi Remaja dalam tumbuh kembangnya memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupannya. Karena remaja yang sehat adalah remaja yang bisa mengontrol emosinya dengan baik.
Dengan adanya ciri-ciri serta usaha untuk mengembangkan emosi remaja secara tepat,secara bertahap diharapkan seorang remaja mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai generasi harapan bangsa.
Untuk itu hendaknya orang tua, guru dan lingkungan masyarakat harus benar-benar dapat memahami bagaimana tumbuh kembang remaja termasuk emosinya.
Pembentukan emosi remaja yang sehat yang bertolak pada pembangunan karakter remaja hendaklah dilaksanakan selain jalur pendidikan, keluarga dan sekolah juga dilaksanakan pada lingkungan.
Selain itu mencipatakan kondisi yang aktual dalam masyarakat hendaklah melalui jalur yang efektif seperti media masa dan organisasi masyarakat, sosial dan politik.
DAFTAR PUSTAKA
Zurayk Ma’ruf. 199. Aku dan anakku : Bimbingan Praktis Mendidik Anak Menuju Remaja. Bandung : Penerbit Albayan.
Schaefer Charles. 1989. Bagaimana Mempengaruhi Anak. Semarang: Dahara Press.
Tim Dosen Pembina Mata Kuliah Perkembangan Peseta Didik UNP.2002. Perkembangan Peserta Didik. Padang: Percetakan UNP.
Pengertian Buku Teks
pengertian buku teks pelajaran adalah ”buku acuan wajib” yang digunakan di sekolah, memuat materi pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan k Persoalannya sekarang, kata “dapat menggunakan” di dalam Permen mengindikasikan bahwa Depdiknas tidak tegas dalam ‘memerintahkan’ para guru untuk menyiapkan bahan ajar mereka sendiri, atau setidaknya, memperkaya buku teks yang mereka pakai di kelas dengan buku-buku atau sumber-sumber yang lain.
Oleh karena itu, jika belum mampu mengembangkan bahan ajar sendiri, atau kebijakan sekolah kebetulan mengharuskan guru untuk memberlakukan satu buku teks bagi siswa-siswanya, maka disarankan berikut ini beberapa hal yang patut dipertimbangkan guru atau sekolah terkait bagaimana memilih buku teks, yaitu: (1) harga buku, (2) ketersediaan buku di pasaran, (3) desain dan tata wajah buku, (4) metodologi pembelajaran yang dipakai, (5) keterampilan bahasa, (6) urut-urutan silabus, (7) topik-topik yang dipilih, (8) buku mengandung atau tidak unsur diskriminasi terkait SARA atau jender, dan (9) ketersediaan dan kualitas buku panduan guru (teacher’s guide).
Ada yang mengatakan bahwa “buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan intruksional” (Hall-Quest, 1915).
Ahli yang lain menjelaskan bahwa “buku teks adalah buku standar/buku setiap cabang khusus studi” dan dapat terdiri dari dua tipe yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan (Lange, 1940).
Lebih terperinci lagi, ada ahli yang mengemukakan bahwa “buku teks adalah buku yang dirancang buat pengguanaan di kelas, dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar atau ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi” (Bacon, 1935)
Dan ahli yang lain lagi mengutarakan bahwa “buku teks adalah sarana belajar yang biasa digunakan di sekolah-sekolah dan diperguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum dipahami (Buckingham, 1958 : 1523)”.
Dari Telaah Buku Teks, Tarigan & Tarigan, 1986.
Buku Teks
Buku teks atau buku pelajaran berisi informasi tentang ilmu pengetahuan atau pelajaran tertentu, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Buku teks ini termasuk dalam golongan nonfiksi. Buku teks sering dipergunakan oleh para ilmuwan untuk meyebarkan hasil penelitian atau penemuan mereka.
buku teks pelajaran merupakan buku yang dipakai untuk memelajari atau mendalami suatu subjek pengetahuan dan ilmu serta teknologi atau suatu bidang studi, sehingga mengandung penyajian asas-asas tentang subjek tersebut, termasuk karya kepanditaan (scholarly, literary) terkait subjek yang bersangkutan.
Lingkungan Pendidikan
Lingkungan Pendidikan
a. A. Pengertian lingkungan pendidikan
Lingkungan (environtment) : “meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang secara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau live proses kita” (Ngalis Purwanto, 1986:77)
Wasty Sumanto (1984:80) mengemukakan bahwa “lingkungan mencakup segala material dan stimuli didalam dan diluar diri individu, baik yang bersifat psikologis, fisiologis, maupun sosial cultural.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang mempengaruhi individu. Sesuatu yang memengaruhi itu mungkin berasal dari luar individu environtment (external environtment). Individu dalam hal ini dapat berbentuk orang atau lembaga lingkungan bagi seseorang sebagi individu adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam dirinya (fisik dan psikis) dan sesuatu yang berada diluar dirinya seperti alam fisika (non manusia) dan manusia. Individu dapat pula diartikan suatu lembag pendidikan. Lingkungan dalam (internal) bagi sekolah sebagai suatu lembaga adalah segala sesuatu yang berada dalam kampus (komplek sekolah tersebut). Lingkungan luar dari sekolah sebagai suatu lembaga adalah keluarga dan masyarakat sekitar sekolah. Jadi yang mana lingkungan luar dan dalam tergantung dari lembaga mana kita melihatnya.
b. B. Jenis Lingkungan Pendidikan
Dalam GBHN terdapat konsep pendidikan seumur hidup yang berbunyi:
“Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, karena itu merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan pemerintah”.
1. Keluarga
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang yang mempunyai hubungan pertalian darah. Keluarga itu dapat berbentuk nukleus family/keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, anak, paman/tante, kakek/nenek, adik/ipar dan sebagainya.
Keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Prediket ini mengindikasikan betapa esensialnya peran dan pengaruh keluarga dalam pembentukan perilaku dan kepribadian anak. Pandangan seperti ini sangat logis dan mudah dipahami karena beberapa alas an seperti :
a. Keluarga merupakan pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak
b. Sebagian besar waktu anak berada dilingkungan keluarga.
c. Karekteristik hubungan – anak berbeda dari hubungan anak dengan pihak lainya (guru, teman dan sebagainya.
d. Interaksi kehidupan orang tua – anak dirumah bersifat “asli” seadanya dan tidak dibuat-buat.
Dalam UU Sisdiknas no. 2 tahun 1989,menyatakan secara jelas dalam pasal 10 memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai-nilai moral dan keterampilan, kepada anak. Keluarga memberikan pengaruh yang kuat, langsung dan sangat dominan kepada anak terutama dalam pembentukan perilaku, sikap dan kebiasaan,penanaman nilai-nilai , perilaku-perilaku dan sejenisnya pengetahuan dan sebagainya.
Fuad Ichsan (1995), mengemukakan fungsi lembaga Pendidikan keluarga sebagai berikut :
1. Merupakan pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak, pengalaman ini merupakan factor yang sangat penting bagi perkembangan berikutnya, khususnya dalam perkembangan pribadinya. Keluarga sangat penting, sebab penglaman masa kanak- kanak akan member warna pada perkembangan berikutnya
2. Pendidikan dilingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional anak untuk tumbuh dan berkembang. Kehidupan emosional ini sangat penting dalam pembentukan pribadi anak. Hubungan emosional yang kurang dan berlebihan akan banyak merugikan perkembangan anak.
3. Didalam keluarga akan terbentuk pendidikan moral, keteladanan orang tua didalam bertutur kata dan berperilaku sehari-m hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak dalam keluarga tersebut guna membentuk manusia susila.
4. Didalam keluarga akan tumbuh sikap tolong-menolong, tenggang rasa sehingga tumbuhlah kehidupan keluarga yang damai dan sejahtera. Setiap anggota keluarga akan menjadi wahana pembentukan manusia sebagai makhluk social.
5. Keluarga merupakan lembaga yang memang berperan dalam meletakkan dasar- dasar pendidikan agama. Kebiasaan orang tua membawa anak-anaknya ke Masjid merupakan langkah yang bijaksana dari keluarga dalam upaya pembentuk anak sebagai makhluk Religius.
6. Didalam konteks membangun anak sebagai makhluk individu agar anak dapat mengembangkan dan menolong dirinya sendiri, maka keluarga lebih cenderung untuk menciptakan kondisi yang dapat menumbuh kembangkan inisiatif, kreatifitas, kehendak, emosi, tanggung jawab, keterampilan dan kegiatan lain.
Seifert & Hoffnung, (1991) menjelaskan 6 kemungkinan cara yang harus dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak sebagai berikut :
a) Pemodelan perilaku (modeling o behavior), baik disengaja atau tidak, orang tua dengan sendirinya akan menjadi model bagi anak-anaknya. Cara orang tua berperilaku menjadi sumber objek imitasi bagi anak. Tidak hanya yang baik- baik saja yag diterima oleh anak, tetapi sifat- sifat yang jelekpun akan dilihat pula. Oleh sebab itu para orang tua harus bersifat hati- hati dalam bersikap.
b) Memberikan ganjaran dan hukuman (giving Rewards and Punishiments), yaitu orang tua mempegaruhi anaknya dengan cara member ganjaran terhadap perilaku- perilaku yang positif dan member hukuman terhadap perilakunya yang tidak diinginkan
c) Perintah langsung ( direct instruction) member perintah secara sederhana seperti “jangan malas belajar” dan sebagainya.
d) Menyatakan peraturan-peraturan (stating Rulers). Yaitu membuat peraturan- peraturan umum yang berlaku dirumah walaupun secara tidak tertulis.
e) Nalar (reasoning) cara yang diguakan orag tua dengan mempertanyakan kapasitas anak untuk bernalar.
f) Menyediakan fasilitas atau bahan dan suasana yang menunjang. Misalnya : Orangtua membelikan buku- buku yang diminati anak daripada mainan pisto- pistolan dan sebagainya.
2. Lingkungan Sekolah
Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan disekolah melalui kegiatan belajar-mengajar dengan organisasi yang tersusun rapi, terencana, berjenjang dan berkesinambungan. Sifatnya formal, diatur berasarkan ketentuan- ketentuan pemerintah dan mempunyai keseragaman pola yang bersifat nasional, dalam rangka meningkatkan kualitas SDM Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju,adil dan makmur.
Tetapi ia juga sebagai produsen dan pemberi jasa yang sangat erat hubungannya dengan pembanguan. Maka pendidikan formal harus berfungsi :
a. Sekolah harus mampu menumbuhkembangkan anak sebagai makhluk individu melalui pembekalan semua bidang studi. Sekolah harus mampu menumbuhkembangkan ranah kognitif, affektif dan psikomotor, agar anak mampu menolong dirinya sendiri dan hidup bermasyarakat.
b. Sekolah melalui teknik pengkajian bidang studi perlu mengembangkan sikap sosial gotong royong, toleransi dan demokrasi dalam rangka menumbuh kembangkan anak sebagai makhluk sosial.
c. Sekolah harus berfungsi sebagai pembinaan watak anak melalui bidang studi yang relevan sebagai akhirnya akan terbentu manusia susila yang cakap yang mampu menampilkan dirinya sesuai dengan nilai dan norma yang hidup dan berkembang dimasyarakat.
d. Sekolah harus dapat menumbuh-kembangkan anak sebagai makhluk yang religious dan mampu menjadi pemeluk agama, yang baik, taat, shaleh dan toleran.
e. Didalam konteks pembangunan nasional, pendidikan formal harus menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas yang mampu mensejahterakan dirinya dan bersama orang lain mampu mensejahterakan masyarakat, bangsa dan Negara
f. Sekolah berfungsi konservatif, inovatif dan selektif dalam mempertahankan/ memelihara kebudayaan yang ada, melakukan pembaharuan dan melayani perbedaan individu anak alam proses pendidikan
3. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat adalah salah satu lingkungan pendidikan yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi seseorang. Masyarakat mempunyai peranan yang penting dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau beberapa segi yakni :
a. Masyarakat aakah sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang dilembagakan maupun yang tidak dilembagakan maupun yang tidak dilembagakan.
b. Lembaga- lembaga kemasyarakatan/ kelompok sosial di masyarakat, baik langsung dan maupun tak langsung ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
c. Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar yang dirancang maupun dimanfaatkan. Dengan kata lain manusia berusaha mendidik dirinya sendiri dengan memanfaatkn sumber- sumber belajar yang tersedia dimasyarakatnya, dalam bekerja, bergaul dan sebagainya.
Peranan masyarakat tersebut dilaksanakan melalui perguruan swasta, dunia usaha, kelompok profesi dan lembaga swasta nasional lainnya. Dalam system pendidikan nasional, hal ini disebut “Pendidikan kemasyarakatan “ yaitu usaha sadar yang memberikan kemungkinan perkembangan sosial, cultural, keagamaan, kepercayaan, terhadap Tuhan Yang Maha Esa, keterampilan, keahlian (profesi) yang dapat di manfaatkan oleh rakyat Indonesia untuk mengembangkan dirinya dan masyarakatnya.
Secara kongkrit peran dan fungsi pendidikan dapat dikemuakakan sebagai berikut:
1. Memberikan kemampuan professional untuk mengembangkan karir melalui kursus penyegaran, penataran, lokakarya, seminar, konferensi ilmiah dan sebagainya.
2. Memberikan kemampuan teknis akademik dalam suatu system pendidikan nasional seperti: sekolah terbuka, kursus tertulis, pendidikan melalui radio dan televise dan sebagainya.
3. Ikut serta mengembangkan kemampuan kehidupan beragama melalui pesantren pengajian, pendidikan agama di surau, biara, sekolah minggu dan sebagainya.
4. Mengembangkan kemampuan kehidupan sosial budaya melalui bengkel seni, teater, olah raga, seni bela diri lembaga pendidikan spiritual dan sebagainya
5. Mengembankan keahlian dan keterampilan melalui system magang untuk menjadi ahli bangunan, montir dan sebagainya.
c. Fungsi Lingkunan Pendidikan
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan berfungsi antara lain sebagi berikut:
1. Pusat pendidikan formal
2. Pusat kebuayaan
3. Lembaga sosial
Ketiga fungsi ini membantu keluarga dan masyarakat dalam hal penyelenggaraan pendidikan informal dan non formal.
Keluarga sebagai lingkungan pendidikan berfungsi (kedalam) antara lai memberikan dasar-dasar pendidikan pada anggota keluarga (terutama anak-anak). Dasar-dasar pendidikan tersebut antara lain: pendidikan agama, moral etika dan pengetahuan dasar baik kognitif, afektif maupun psikomotor dasar fungsi keluar.
Masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal antar lain berfungsi membantu sekolah dan keluarga warga masyarakat yang tidak dapat kesempatan memperoleh pendidikan formal disekolah dapat ditampung pada lembaga pendidikan nonformal misalnya program kejar paket A setara dengan SD, paket B setara dengan SLTP, paket C setara dengan SMA.
d. Pengaruh Timbal balik antara ketiga lingkungan pendidikan terhadap perkembangan peserta didik.
pusat pendidikan dapat berpeluang member kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni:
1. Pembimbingan dalam upaya pemanfaatan pribadi yang berbudaya
2. Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan
3. Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan
Berbagai upaya dilakukan agar program-program pendidikan dari setiap pusat pendidikan saling mendukung dan memperkuat antara satu dan yang lainya. Dilingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal seperti perbaikan gizi, permainyan edukatif, penyuluhan orangtua dan sebagainya. Yang dapat menjadi landasan pengembangan selanjutnya disekolah dan masyarakat.
Di lingkungan sekolah diupayakan berbagai hal yang lebih mendekatkan sekolah dengan orangtua siswa, seperti adanya organisasi orang tua siswa, kunjungan rumah oleh personal sekolah dansebagainya. Akhirnya lingkungan masyarakat mengusahakan berbagai kegitan atau program yang menunjang/melengkapi program keluarga dan sekolah.
Kerjasama seperti ini dituangkan dalam UU SPN No. 20 tahun 2003 yang berbunyi “Komite sekolah/madrasah, adalah lembaga mandiri yang berangkotakan orangtua/wali perserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.