Rabu, 08 Januari 2014

Guru itu “Digugu” dan Ditiru

Guru adalah profesi yang sangat terpuji. Selain membuat anak-anak pintar, seorang guru akan selalu mendapat kiriman pahala dari murid-muridnya walau ia sudah meninggal. Guru seharusnya profesi pilihan bukan pelarian.

Oleh karena itulah saya sangat menghargai saudara-saudara saya yang memilih profesi sebagai guru. Salah satunya adalah mas Toha yang kini menjadi kepala sekolah SMA Dian Didaktika, Cinere, Depok, Jawa Barat. Lelaki berambut putih ini adalah anak dari pakde saya. Sebagian besar anak pakde dari jalur ibu ini adalah guru, atau paling tidak pasangan hidupnya guru.

Mas Toha sangat menjiwai dan menekuni profesinya sebagai guru. Oleh karena itu saya sangat yakin, sentuhan tangan dinginnya akan membuat sekolah yang dipimpinnya menuai banyak prestasi. Guru juga bisa bermakna “digugu” (didengarkan) dan ditiru. Dan sejujurnya, cara hidup saya banyak meniru mas Toha ini.

Nah, karena guru itu digugu dan ditiru, waspadalah. Mengapa? Sebab, setiap perilaku guru dicontoh atau ditiru oleh murid-muridnya. Kisah berikut bisa dijadikan pelajaran.

Seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Sebelum makan baca apa anak-anak?” Muridnya menjawab, “Baca bismillah, pak guru.” Guru itu melanjutkan pertanyaan, “Kalau setelah makan baca apa anak-anak?” Muridnya menjawab, “Astaghfirullah”

Sang guru terkejut, kemudian bertanya, “Lho, kok astagfirullah?” Muridnya menjawab, “Kemarin saat makan di restoran, selesai makan bapak baca astagfirullah.” Dengan tenang guru menjawab, “Bapak mengucapkan itu karena melihat tagihannya mahal banget.”

Salam SuksesMulia!
(source: sebuah artikel menyegarkan dari Kakek Jamil Azzaini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar